Rabu, 04 Februari 2015

kesenian cirebon

Cirebon, selain dijuluki sebagai kota Udang dan kota Wali ternyata kota yang berada di timur Jawa Barat ini memiliki beberapa budaya kesenian daerah yang mendunia. Kali ini saya mau share buat temen-temen beberapa kesenian daerah khas Cirebon. Jika temen-temen sempat mengunjungi kota Cirebon lalu berbincang-bincang tentang budaya keseniannya, pasti nama-nama dibawah ini akan terdengar. Dan bahkan jika ada suatu hiburan entah hajatan, khitanan, atau perayaan lainnya pasti akan menemui kesenian-kesenian dibawah ini. Pokonya Cirebon banget deh J
1. Tari Topeng

Tari Topeng Cirebon tepatnya, adalah salah satu tarian di tatar parahyangan. Disebut tari topeng karena penarinnya menggunakan Topeng. Mimi Rasinah, adalah salah satu maestro tari topeng. Tari ini selalu mengalami perkembangan dari berbagai gerakan atau cerita yang dibawakan. Di sanggar-sanggar wilayah Cirebon dan sekitarnya, tari ini menjadi salah satu tari faforit. Tari topeng masih dipentaskan dalam acara kesenian tradisional ataupun acara lainnya. Tari topeng bisa dimainkan secara tunggal maupun kelompok. Ketika tarian ini dimulai, kendang dan rebab menjadi  alunan musiknya yang mendominasi.
Masing-masing topeng pada tari ini memilik karakter yang menggambarkan sifat atau perwatakan seseorang. Topeng berwarna biru misalnya, mengandung sifat yang anggun dan lincah. Lalu topeng yang  berwarna merah memiliki karakter yang beringas dan sangat tempramental. Jenis tarian yang terkenalnya ialah tari topeng Kencana Wungu yang menceritakan Prabu Minak Jingga yang tergila-gila pada Ratu Kencana Wungu. Tari ini karya Nugraha Soeradireja. Tari Toeng sangat populer sekali di wilayah Cirebon, Indramayu, Subang, Majalengka, Brebes, Banyumas, Purwokerto dan Kuningan.
2. Tari Sintren
Tari Sintren adalah tari tradisonal yang berasal dari Cirebon tepatnya di wilayah pesisir utara. Nama lain dari kesenian ini adalah Lais. Tari Sintren sangat terkenal dengan suasana mistisnya yang bersumber dari cerita Sulasih dan Sulandono. Kisah cinta pasangan kekasih ini tidak direstui , sehingga Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Pertemuan keduanya saat itu hanya melalui alam gaib. Singkat cerita pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamasari yang memasuki roh bidadari ke tubuh Sulasih. Lalu Sulandono yang sedang bertapa dipanggil ibunya untuk menemui Sulasih. Sejak saait itulah setiap diadakan pertunjukan tari Sintren, sang penari dimasuki oleh roh bidadari oleh pawangnya dengan syarat penari masih dalam keadaan suci (perawan). Suara musik dalam pertunjukan Sintren sangat sederhana dan khas sekali.
Pertunjukan tari ini diperankan gadis yang masih suci dibantu oleh pawang. Si pawang mengundang roh Dewi Lanjar untuk masuk kedalam penari. Penari akan terihat cantik dan membawakan tarian yang mempesona. Unikanya, jika masyarakat sekitar sawer (melempar uang), si penari akan berhenti dan menari lagi setelah tidak ada lagi yang sawer. Hal ini dilakukan berulang-ulang kali dan terlihat menarik. Dalam perkembangannya, tari Sintren diperagakan pula dengan penari disekelilingnya dan diselingi bodoran (lawak).

3. Lukisan Kaca

Lukisan kaca sudah kenal di Cirebon sejak abad 17. Lukisan ni dikenal pula sebagai media dakwah pada masa Panembahan Ratu dan sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam saat itu. Lukisan ini berbentuk tulisan Kaligrafi dan gambar Wayang dengan ditulis diatas media kaca. Pengaruh kaligrafi dikarenakan dalam menyiarkan agama Islam, banyak ulama melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Hadist. Sedangkan gambar Wayang di daerah Cirebon serimg diadakan pertunjukan Wayang yang menampilkan tokoh-tokoh Wayang seperti Arjuna, Kresna, Rama, Lesmana dll.

Di abad 19, objek lukisan kaca bukan hanya tulisan kaligrafi dan hadist, melainkan berkembang seperti gambar Paksinaga Liman, Buroq, dll. Perbedaan lukisan kaca di kota Solo, Jawa Tengah dengan lukisan dari Cirebon ialah pada teknik dan cara melukisnya. Jika lukisan kaca Solo dilukis diatas kaca depan, berbeda halnya dengan lukisan Cirebon yang justru melukis dari kaca belakang.
4. Batik Cirebon
Batik Cirebon lahir sejak abad 16. Berawal ketika Pelabuhan Cirebon (dulu Muara Jati) dijadikan tempat transit dan persinggahan para pedagang asing dari Arab, Persia, India dan China. Kemudian dari hal itu menciptakan asimilasi dan akulturasi bercampur budaya, serta menciptakan banyak tradisi baru. Salah satunya batik Cirebon. Kota-kota dengan batiknya di Indonesia yang mempopulerkan sangat berkembang, mulai dari batik Pekalongan, Solo, Jogja, Garut, Palembang dll.
Beberapa motif atau corak yang terkenal pada batik Cirebon ialah motif Megamendung dan Paksi Naga Liman. Megamendung dipengaruhi dari motif China yang berbentuk garis-garis awan. Megamendung Cirebon memiliki ciri khas sendiri yakni awan berbentuk lonjong, lancip dan segitiga sedangkan China berbentuk bulatan. Sementara motif Paksi Naga Liman lebih memberi pesan peperangan antara kebaikan melawan kejahatan guna mencapai kemakmuran.

Pusat dari pembuatan batik Cirebon sendiri berada di Trusmi, Plered. Batik Trusmi lahir dari karya pemuka agama Islam, Ki Buyut Trusmi. Bersama Sunan Gunung Jati, keduanya mengajarkan Islam di wilayah Trusmi dan mengajarkan keterampilan membatik kepada penduduk setempat. Hingga kini, kawasan Trusmi terkenal dengan Kampung Batik. Banyak wisatawan mancanegara yang melancong di kawasan ini.


4. Buroq
Seni Buroq lahir sekitar tahun 1934. Abah Kalil, penduduk Desa Kalimaro, Kecamatan Babakan ialah pencetus seni ini. Buroq juga dikenal dengan nama seni Bedawang (boneka-boneka berukuran besar) seperti Kuda terbang, Macan, Singa, dll. Seni Buroq diilhami tentang perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap.

Pertunjukan Burokan biasanya dipakai dalam beberapa perayaan, seperti Khataman, Sunatan, Perkawinan, Marhaban dll. Pertunjukan diawali dengan Tetalu lalu bergerak perlahan dengan lantunan lagu Asroqol (berupa salawat Nabi dan Barzanji). Rombongan pertunjukan masih berjalan ditempat, setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak diiringi dengan alunan genjring dan shalawatan. Dalam perkembanganya, seni Buroq saat ini lebih menggunakan alat-alat musik modern seperti gitar, suling, kendang dan mengiringinya dengan alunan musik dangdut. Hiburan ini sangat bermakna bagi warga sekitar karena bersifat Islami, disenangi anak-anak dan tentunya lebih meningkatkan tali silahturahmi.


Demikian postingan saya hari ini tentang kesenian yang ada di Cirebon. Silahkan buat temen-temen apabila ada yang mau menambahkan. Sebagai generasi penerus, kita harus bangga dan tetap melestarikannya dengan cara terus mengadakan pertunjukan-pertunjukan tari Topeng dan Sintren serta mengembangkan kreatifitas melalui membatik dan melukis di kaca agar kesenian ini tidak punah dimakan seni modern yang mengalir begitu cepat merasuki otak anak-anak muda. Cintai budaya dalam negeri!